Pemeriksaan Kadar Aflatoksin dalam Darah Donor Manusia

Darah yang akan ditransfusi harus bebas dari bahan-bahan yang merugikan kesehatan, misalnya "aflatoxins". Sebagai negara di daerah tropis tapi lembab Indonesia diketahui atau dikenal sebagai daerah subur bagi aflatoxins untuk berkembang, tentunya mudah menyebabkan pencemaran terhadap beberapa bahan pangan seperti kacang-kacangan dan biji-bijian. Atas dasar pendapat tersebut maka diduga bagi masyarakat yang makanan sehari-harinya menggunakan kacang-kacangan atau biji-bijian mungkin saja kemasukan aflatoxin yang dapat menjadi berlipat ganda di dalam tubuh. Sehubungan dengan hal tersebut maka kandungan aflatoxin dalam darah telah ditentukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung. Masyarakat Bandung dikenal sebagai pemakan oncom dan lotek yang diduga tercemat aflatoxin. Berdasarkan dugaan ini maka darah dari donor yang diambil oleh laboratorium PMI perlu diperiksa dengan dua cara, yaitu secara "chromatographic" dengan menggunakan "Thin Layer Chromatography" dan Enzym Linked Immuno Sorbent Assay". Dari 65 sampel yang diperiksa secara chromatographic terdapat 80% posistif ringan terhadap aflatoxin, dan 7 mengandung 750-5000 ng/l; sedangkan dengan cara ELISA menunjukkan 100% positif dengan kandungan berkisar antara 50-5000 ng/l. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa cara ELISA lebih baik dari pada cara chromatographic.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

17 x
Terbitan : 1994
Pembaruan : 2018-06-28T12:43:07Z


Kategori