Uji Coba Penggunaan Media Selektif untuk Isolasi Kuman Pertussis

Gambaran epidemiologis batuk rejan di Indonesia masih belum diketahui dengan pasti karena adanya kesukaran dalam menegakkan diagnosisnya. Diagnosis klinis sukar dilakukan mengingat banyaknya kasus batuk rejan dengan gejala klinis atipikal. Di pihak lain, teknik isolasi kuman batuk rejan di laboratorium masih belum memberikan hasil yang memuaskan, karena kontaminasi oleh flora komensal saluran napas. Para ahli telah mengembangan media selektip yang mampu meningkatkan derajat keberhasilan isolasi kuman batuk rejan. Penelitian ini mengukur manfaat selektif dalam menegakkan diagnosis batuk rejan di Indonesia. Media selektif yang dipilih adalah media Regan & Lows, terdiri dari charcoal agar (Oxoid OM 119) ditambah 10% darah kuda, 40 ug/ml cephalexin dan 50 ug/ml fungizone.Kapasitas dukung media ini terhadap kuma batuk rejan diukur dengan strain 18-323 sebagai indikatornya. Kapasitasnya juga diperbandingkan dengan kapasitas Bordet-Gengou agar (Oxoid CM 267). Juga diteliti pengaruh kehadiran cephalexin dan fungizone terhadap pertumbuhan kuman batuk rejan strain 18-323. Kapasitas media selektif untuk menekan pertumbuhan kontaminan dipelajari dengan menanam swab orang sehat dan mengukur derajat kontaminasi yang timbul karenanya. Uji coba lapangan dilakukan di 3 Puskesmas di Kodya Bandung dan di 2 rumah sakit di Jakarta. Spesimen yang diambil berupa nasopharyngeal swab dari anak balita yang menderita infeksi akut saluran napas dengan kriteria batuk selama 2 minggu, belum diobati dengan antibiotik dan mengeluarkan dahak dan ingus yang kental. Isolasi kuman di Bandung dilakukan oleh Labkesda dan diuji ulang di Pusat Penelitian Penyakit Menular-Jakarta. Isolat yang diperoleh kemudian diuji serotipnya dengan menggunakan antisera baku (NIH,Tokyo). hasil penelitian menunjukkan bahwa darah domba lokal memiliki kapasitas dukung pertumbuhan kuman yang sama dengan darah kuda, sehingga darah domba dipergunakan terus dalam penelitian lebih lanjut. Cephalexin 40 ug/ml ternyata menghambat pertumbuhan kuman sampai sekitar 80% sedangkan fungizone 50 ug/ml tidak berpengaruh pada pertumbuhan kuman batuk rejan. Agar media selektif lebih dapat dimanfaatkan secara optimal, telah dicoba untuk menurunkan kadar cephalexin sampai 10 ug/ml dan kadar fungizone sampai 5 ug/ml. Ternyata penurunan kadar ini menjadikan cephalexin tidak menghambat pertumbuhan kuman batuk rejan, tanpa mengurangi kapasitasnya untuk menekan kontaminasi. Uji coba lapangan menunjukkan hasil penemuan 14 isolat kuman batuk rejan dari 232 kasus infeksi akut saluran napas. Dari 12 kasus tersangka batuk rejan dapat ditemukan 4 isolat (25%). Infeksi batuk rejan ditemukan pula sebagai komplikasi penyakit saluran napas lainnya. Terbesar ditemukan pada kasus bronkopneumonia (23,5%). Mengingat infeksi saluran nafas bagian bawah ini bertanggung jawab atas 28,9% kematian anak balita, kiranya perlu diteliti pula peranan batuk rejan pada angka kematian tersebut.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

30 x
Terbitan : 1985
Pembaruan : 2018-06-28T12:42:55Z


Kategori