Analisis Data Agregat Pengukuran LILA Dan BMI Pada BUMIL Terhadap Proporsi BATITA Stunting Di 33 Propinsi Indonesia

Latar belakang: Tingginya Prevalensi Stunting pada anak usia 2-3 tahun merupakan reflexi masalah gizi ibu selama kehamilan dan erat kaitannya dengan kemiskinan. Secara agregat IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) merupakan indikator kemajuan pembangunan kesehatan dan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) termasuk didalamnya. Tujuan analisis: mempelajari hubungan KEK pada ibu hamil (Riskesdas 2007) dengan stunting pada anak usia 2-3 tahun (Riskesdas 2010) dan faktor apa yang menjadi pembeda antara wilayah dengan prevalensi stunting tinggi dan rendah. Metoda: analisis ini merupakan studi populasi, data yang dianalisis adalah data agregat dan uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi dan uji diskriminan. Dalam analisis ini stunting sebagai variabel terikat, sedangkan IPKM 2007, IPM 2007, kemiskinan 2007, KEK pada bumil (LILA)/ IMT, rumah tangga defisit energi (Riskesdas 2007) sebagai variabel bebas. Hasil Analisis: Secara bivariat tidak ditemukan korelasi antara KEK pada bumil dengan stunting pada anak usia 2-3 tahun namun ditemukan korelasi antara stunting dengan IPKM (r=-0,67;p=0,000), IPM (r=-0,52;p=0,002) dan kemiskinan (r=0,58;p=0,003). Hasil uji diskriminan menunjukkan bahwa IPKM adalah faktor pembeda antara wilayah dengan prevalensi stunting rendah dan stunting tinggi pada anak usia 2-3 tahun. Kontribusi varian IPKM terhadap perbedaan kedua kelompok stunting sebesar 34%. Kesimpulan: Secara agregat tidak ditemukan korelasi antara stunting pada anak usia 2-3 tahun dengan KEK pada ibu hamil namun ditemukan korelasi dengan IPKM, IPM dan kemiskinan. IPKM merupakan faktor pembeda antara wilayah dengan prevalensi stunting tinggi dan rendah pada anak usia 2-3 tahun.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

21 x
Terbitan : 2010
Pembaruan : 2018-06-28T12:43:52Z


Kategori