Frekuensi Mycobateria Atypical di Padang, Semarang, Surabaya

Di Indonesia penyakit TBC merupakan masalah kesehatan masyarakat, dan untuk penanggulangannya selain pengobatan dengan anti tuberkulosa dilakukan pula vaksinasi BCG. Laporan WHO, tentang vaksinasi terhadap tuberkulosa, menyebutkan bahwa adanya infeksi Mycobacteria atypical akan dapat mengurangi efeksi BCG terhadap tuberkulosa. Di India BCG tidak memberi perlindungan karena tingginya infeksi mycobacteria atypical di sana. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar frekuensi mycobacteria atypical di 3 daerah yang diteliti, yakni Padang, Semarang dan Surabaya. Penelitian dilakukan dengan cara mengambil sputum dari 590 penderita tersangka Lowenstein-Jensen dan Kudoh dilanjutkan dengan reaksi biokimia untuk identifikasi kuman yang tumbuh. Dari 162 spesimen yang diperiksa dari Padang, diketemukan 13 (8%) mycobacteria atypical dari Semarang dari 125 yang diperiksa diketemukan 30 (24%), dan dari Surabaya dari 3030 diketemukan 36 (11,5%) mycobacteria atypical. Atypical yang diketemukan itu ialah terdiri dari species : M.simiae 34.7% M.fortuitum 7.72% M.kansasii 11,39% M.Phlei 10,12% M.Gastri 8,86% M.Chelonei 6,33% M.scrofulaceum 0,54% M.avium 2,54% M.smegmatis 2,54% M.flavescens 1,28% Sesuai dengan klasifikasi Runyon, dari Semarang dan surabaya ditemukan group I,II,III, IV masing-masing 43,33%, 6,67%, 6,67%, 43,33% dan 50,00%, 8,33%, 19,45%, 22,22% sedangkan dari Padang hanya ditemukan group I 38,46 % dan group Iv 61,54 %. Kesimpulan ialah adanya frekuensi mycobacteria atypical maupun distribusi golongannya berbda untuk tiap daerah geografi yang berbeda, dan dapat diduga hal ini sebagai slah satu penyebab perbedaan prevalensi (angka kesakitan ) TBC serta kegagalan pengobatan tuberkulosa. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

7 x
Terbitan : 1985
Pembaruan : 2018-06-28T12:42:57Z


Kategori