Kluster Spasial dan Determinan Peminum Alkohol di Indonesia

Beban penyakit dan cedera akibat minum alcohol di negara-negara yang belum menjadi masalah, seperti Indonesia, menunjukkan peningkatan yang mengkuatirkan. Ketersediaan informasi hingga level kabupaten/kota merupakan prasyarat yang penting untuk mengembangkan program intervensi yang terarah. Tujuan analisis lanjut adalah mengidentifikasi kluster peminum alkohol kabupaten, kota dan kelompok blok sensus, dan menentukan determinan pada level individu, rumah tangga dan Iingkungan yang berpengaruh terhadap perilaku minum alkohol. Responden umur 10 tahun ke atas yang menjawab pertanyaan tentang minum minuman beralkohol dalam 1 bulan terakhir sama besar 99.3 % dari 768,635 orang. Response rate yang menjawab pertanyaan Iebih lanjut tentang jenis, frekuensi dan intensitas, masing-masing adalah 99.2 %, 98.2 % dan 68.9 %, dari 16,394 laki-laki yang menjawab pernah minum dalam 1 bulan terakhir. Prevalensi penduduk laki-laki umur 15 tahun ke atas yang minum minuman beralkohol 1 bulan terakhir adalah 4.5 % di perkotaan, 5.2 % di perdesaan dan 4.9 di perkotaan dan perdesaan. Ada 7 provinsi dengan prevalensi di perkotaan lebih tinggi secara bermakna dari prevalensi di perdesaan, yaitu Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Selatan, Papua Barat dan Papua. Provinsi dengan prevalensi 10 % ke atas di daerah perkotaan, perdesaan atau keduanya adalah Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

29 x
Terbitan : 2009
Pembaruan : 2018-06-28T12:47:49Z


Kategori