Pemanfaatan Tanaman Obat Kecacingan (STH) Oleh Masyarakat di Kalimantan Selatan

Penggunaan tumbuhan obat sebagai salah satu alternatif pengobatan mandiri (self medication) telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia secara turun-temurun, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan tanaman obat kecacingan. Penelitian dilakukan di 4 Kabupaten dengan ekosistem berbeda di provinsi Kalimantan Selatan sejak bulan Maret - Oktober 2008. Penelitian bersifat deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sampel penelitian adalah masyarakat yang sedang menderita kecacingan serta melakukan pengobatan dengan menggunakan tanaman obat. Tahapan kegiatan terdiri atas eksplorasi tanaman obat kecacingan, rekomendasi pengobatan menggunakan tanaman obat dan melakukan koleksi spesimen tanaman yang ditemukan. Hasil observasi ditemukan ± 65 spesies tanaman obat kecacingan di lokasi penelitian. Tanaman tersebut merupakan tanaman liar atau sengaja ditanam oleh pemiliknya dan sudah memanfaatkannya sebagai tanaman obat dan sebagian responden ada yang belum mengetahui manfaat dari tanaman yang hidup di sekitar rumah mereka. Berdasarkan hasil KAP, pengetahuan responden tentang kecacingan cukup tinggi. Pada umumnya responden mengetahui penyakit cacing secara umum (77%), dan responden paling sering melihat kejadian cacing kremi (72,5%). Tentang obat tradisional, (61%) responden percaya bahwa kecacingan bisa diobati dengan obat tradisional, tapi hanya (35%) responden yang yakin bahwa obat tradisional tersebut berasal dari tanaman obat. Bagian tanaman yang paling sering digunakan adalah biji (13%) dan daun (10%).


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

21 x
Terbitan : 2009
Pembaruan : 2018-06-28T12:47:49Z


Kategori