LAPORAN HASIL ANALISIS LANJUT DATA RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2007: SUMBANGAN ENERGI ZAT GIZI MAKRO SEBAGAI ALTERNATIF INDIKATOR KEMISKINAN

Kemiskinan selalu menjadi isu yang menarik untuk dibahas bahkan dijual sebagai isu politik. Disisi lain pengentasan kemiskinan telah menjadi prioritas pembangunan. Seiring dengan itu banyak indikator kemiskinan dikembangkan, namun yang paling banyak yang berkaitan dengan pangan. Telah dikenal teori Engel yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendapatan semakin kecil proporsi belanja pangan. Bank dunia menyatakan proporsi belanja pangan 60% sebagai batas cukup miskin dan 70% sangat miskin. Telah dilakukan analisis lanjut data Riskesdas 2007 untuk mempelajari kemungkinan sumbangan energy zat gizi (hidrat arang) sebagai alternatif indikator kemiskinan. Data konsumsi makanan 203123 rumahtangga dihitung kandungan zat gizi dan energi, dengan perangkat lunak Nutrisoft yang dikembangkan Abas Basuni Jahari. Dihitung rata-rata konsumsi energi dan zat gizi. Dihitung sumbangan zat gizi makro terhadap konsumsi energi rumahtangga. Dihitung juga menurut kuintil dan garis kemiskinan persen belanja pangan. Pada tingkat nasional hidrat arang menyumbang 66,6% energi rumahtangga, protein menyumbang 13,0% dan lemak 20,4%. Analisis menurut kuintil menunjukkan semakin tinggi kuintil, semakin rendah sumbangan hidrat arang, semakin tinggi sumbangan lemak dan relatif semakin tinggi sumbangan protein terhadap konsumsi energi rumahtangga. Pada kuintil pertama hidrat arang menyumbang 69,2% dan 61,8% pada kuintil 5. Sumbangan energi dari protein 12,8% pada kuintil pertama dan 13,9% pada kuintil 5. Sumbangan lemak 18,0% pada kuintil pertama dan 23,5% pada kuintil 5. Analisis menurut belanja pangan menunjukkan, pada belanja pangan >70% dari total be1anja rumahtangga, sumbangan energi dari hidrat arang 69,5% dari protein 12,8% dan dari Jemak 17,7%. Pada belanja pangan > 80%, sumbangan energi dari hidrat arang 71,1%, dari protein 12,6% dan dari Jemak 16,3%. Hasil Uji reliabilitas yang dilakukan pada beberapa batas belanja pangan dan beberapa batas sumbangan energy dari zat gizi hidrat arang ternyata tidak diperoleh nilai kappa yang baik. Nilai Kappa tertinggi terlihat pada batas belanja pangan >70%(sangat miskin) dan <50% (kaya) dan sumbangan energi dari zat gizi hidrat arang sebesar 65%, yaitu sebesar 0.21 atau hanya dapat memprediksi sebesar 21% rumatangga miskin.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

25 x
Terbitan : 2008
Pembaruan : 2018-06-28T12:47:59Z


Kategori