LAPORAN SURVEI PENDAHULUAN PENELITIAN PENGEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KEPULAUAN SERIBU PROVINSI DKI JAKARTA

Kepulauan Seribu meeupakan gugusan pulau-pulau kecil yang secara administrasi termasuk dalam wilayah DKI Jakarta. Wilayah ini berpotensi mendapat tekanan yang besar sebagai dampak aktivitas pembangunan berupa pencemaran, perubahan ekosistem dan eksploitasi sumberdaya yang berlebihan. Letak geografis yang terpencar-pencar mengakibatkan sulitnya akses ke wilayah tersebut sehingga kurang menguntungkan masyarakat, termasuk masalah kesehatan. Untuk itu dilakukan penelitian pengembangan kesehatan masyarakat berbasis lingkungan. Pada tahap pertama dilakukan survei pendahuluan untuk mengidentifikasi sumberdaya kesehatan, sosial budaya masyarakat, habitat vektor penyakit, inventarisasi flora yang berpotensi sebagai bahan baku obat dan insektisida, dan mengidentifikasi pencemaran logam berat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terstruktur, wawancara mendalam, pengamatan lingkungan, penangkapan vektor, identifikasi berbagai jenis tanaman, serta pengambilan sampel air bersih, air laut dan hasil laut. Selain itu dilakukan pengumpulan data sekunder dari puskesmas, Sudin Kesehatan Masyarakat, dan instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan sumberdaya kesehatan yang ada secara kuantitas sudah mencukupi, tetapi karena wilayah kerjanya tersebar sumberdaya yang ada menjadi kurang efisien. Masalah kesehatan yang menonjol berdasarkan angka kunjungan puskesmas paling tinggi adalah ISPA (19%) dan diare (16%), diikuti dengan penyakit-penyakit yang berkaitan dengan lingkungan pekerjaan seperti penyakit mata, hipertensi, penyakit kulit, radang sendi dan kulit alergi. Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat Kepulauan Seribu terhadap upaya kesehatan, terutama dalam pencegahan penyakit masih kurang positif. Di wilayah Kepulauan Seribu ditemukan habitat perkembangbiakan vektor penyakit, terutama di Pulau Pari berupa kolam-kolam bekas perendaman rumput laut dan sumur-sumur dangkal di sekitarnya yang positif larva Anopheles dan di Pulau Panggang berupa drum yang banyak digunakan untuk menampung air yang positif berjentik Aedes aegypti. Telur cacing Ascaris lumbricoides ditemukan pada sampel tanah yang diambil di luar rumah di Pulau Pari, dan Toxocom sp ditemukan pada tanah yang diperiksa di semua pulau. Lalat dan kecoa ditemukan di semua pulau dengan jenis terbanyak lalat Musca domestica dan kecoa Periplanefta americana. Spesies tikus terbanyak yang tertangkap di dalam rumah adalah R.tanezumi di Pulau Pari dan R. norvegicus di Pulau Panggang dengan keberhasilan tangkapan rata-rata 23,8%, dimana dari hasil pemeriksaan serologi sebanyak 22,5% mengandung antibodi terhadap infeksi hantavirus. Sedangkan dalam hal flora, dari 66 jenis tanaman yang diidentifikasi sebanyak 53,0% diketahui berpotensi sebagai bahan baku obat dan 21,2% sebagai bahan insektisida. Wilayah Kepulauan Seribu sudah menunjukkan ada pencemaran oleh logam berat di mana beberapa jenis logam berat seperti Pb, Cd dan Hg sudah terdeteksi pada air laut dan rantai makanan seperti air bersih dan ikan hasil laut. Sebanyak 16,6% sampel air bersih melebihi nilai ambang batas menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.416 tahun 1990 untuk parameter Pb, 46,6% Cd, dan 46,6% Hg, sedangkan sampel hasil laut masih dibawah nilai direkomendasikan keputusan Direktorat Jenderal POM 07325 tahun 1989. Dengan ditemukannya habitar perkembangbiakan serta vektor malaria, DBD dan filariasis, menunjukkan bahwa di Kepulauan Seribu berpotensi terjadinya penularan penyakit tular vektor, sedangkan ditemukannya kandungan logam berat pada air bersih, air laut dan hasil laut yang melebihi ambang batas menunjukkan bahwa Kepulauan Seribu telah tercemar logam berat.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

95 x
Terbitan : 2005
Pembaruan : 2018-06-28T12:48:01Z


Kategori