PERILAKU DAN SOSIAL BUDAYA DALAM PENANGGULANGAN PENYAKIT SHIGELLA

Telah dilakukan penelitian tentang penelitian perilaku dan sosial budaya terhadap penanggulangan penyakit shigella di Jakarta Utara, DKI Jakarta. Tujuan umum penelitian untuk melihat persepsi dan perilaku pencarian pengobatan saat ini yang berkaitan dengan pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit shigella dan penyakit diare lainnya, juga diterimanya program vaksinasi shigella tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sebagai responden adalah penduduk sebanyak 500 responden. Kriteria responden adalah telah berumur diatas 22 tahun (dianggap dapat mewakili keluarga) dan masing-masing responden telah ditentukan jenis kelaminnya laki-laki atau wanita, yang diambil dari listing sensus penduduk Kecamatan Tanjung Priok (6 kelurahan) dan Iiecamatan Koja (5 kelurahan). Hasil penelitian menurut responden sebanyak 62,2% tempat pencarian pengobatan untuk berbagai penyakit ke puskesmas. Pertama kali dibawa berobat bila sakit disentri menurut responden laki-laki 40,4% dan responden wanita 41,6% dibawa berobat ke puskesmas, lainnya dibawa ke dokter swasta, ke RS umum, balai pengobatan, klinik swasta (24 jam), pengobat tradisional, RS swasta, mantri kesehatan/bidan. Menurut responden laki-laki dan wanita masing-masing 95,3% di Kecamatan Tanjung Priok dan menurut responden laki-laki 99,2%, responden wanita 100.0% di Kecamatan Koja bersedia divaksinasi. Menurut responden laki-laki 87,2% dan wanita 90,1% di Kecamatan Tanjung Priok dan menurut responden laki-laki 99,0%, responden wanita 100,0% di Kecamatan Koja, anggota keluarga lainnya juga mau divaksinasi. Menurut responden laki-laki 95,3% dan wanita 96,7% di Kecamatan Tanjung Priok dan menurut responden laki-laki 99,0% dan wanita 98,0% di Kecamatan Koja vaksinasi untuk mencegah disentri. Walaupun vaksinasi hanya dilakukan 2 kali dalam setahun mereka mau divaksinasi. Menurut responden sebanyak 76.8% vaksinasi yang disukai anak-anak berupa obat diminum (oral) dan 74.4% untuk dewasa berupa suntik. Sebanyak 55,2% responden mengatakan bahwa biaya untuk vaksinasi yang dapat dijangkau antara Rp.2.501-Rp.5.000. Masyarakat memerlukan penyuluhan terlebih dahulu mengenai vaksinasi untuk penyakit disentri, antara lain tentang efektfitas atau tingkatan perlindungan, lamanya perlindungan, efek samping, dosis, jenis vaksinasi, selang waktu pemberian, pantangan makan, biaya.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

7 x
Terbitan : 2002
Pembaruan : 2018-06-28T12:48:01Z


Kategori