Model Kewaspadaan Dini Demam Berdarah Dengue

Di Indonesia Penyakit Demam Berdarah masih tetap merupakan masalah kesehatan yang serius sejak dilaporkan adanya kasus pada tahun 1968 di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Surabaya. Penyakit DBD di DKI Jakarta telah berulang kali menimbulkan wabah baik tingkat kodya maupun propinsi dengan jumlah kasus tahun 1995 dan 1996 sebesar 5867 dan 7081 kasus. Dengan angka rata-rata kematian sekitar 1 persen dengan jumlah wilayah yang endemis sebesar 95% dari 265 kelurahan. Meskipun sampai saat ini telah dipakai pelbagai strategi pencegahan/penanggulangan, tetapi tampkanya belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Penanggulangan dini untuk dapat mencegah meningkatnya kasus atau wabah sewaktu kasus masih sedikit hampir tidak pernah dapat dilakukan, setiap penanggulangan selalu terlambat dilakukan sehingga wabah sudah terlanjur meluas. Di dalam seminar Sehari DBD tanggal 4 Agustus 1997 di Hotel Cempaka telah direkomendasikan untuk dilakukan pengamatan terhadap kasus FUO di masyarakat melalui puskesmas sebagai model kewaspadaan dini sebagaimana yang direkomendasikan oleh WHO, dengan mendeteksi IgM/IgG dengan suatu test yang cepat dan sederhana dalam hal ini adalah dengue rapid test. Penelitian ini mencari suatu model dini untuk menentukan kenaikan/penurunan DBD dengan melihat kasus-kasus FUO yang ada di masyarakat. Sehingga penanggulangan DBD di masyarakat dapat dilakukan dengan tepat dan tidak selalu terlambat. Dari 200 kasus FUO yang dapat dikumpulkan dan diperiksa dengan Dengue Rapid Test, terdapat 3,5 persen primer terhadap dengue dan 14,5 persen positip sekunder terhadap dengue. Kasus yang positip terhadap DBD dengan jumlah yang tinggi terjadi pada kasus FUO pada bulan Februari (5 kasus primer dan 12 kasus sekunder).


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

30 x
Terbitan : 1998
Pembaruan : 2018-06-28T12:42:58Z


Kategori