Quality Control Pemeriksaan Mikroskopis TB di Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM)

Penyakit TBC masih merupakan masalah yang serius di Indonesia, dari data P2TB paru menunjukkan kasus TB paru dari 250/100.000 jiwa pada tahun 1979-1982 menjadi 290/100.000 pada tahun 1990. Untuk meningkatkan ketepatan diagnosa Tb secara mikroskopis perlu adanya keseragaman diagnosa dan ketepatan hasil pemeriksaan. Sampai saat ini PRM (Pusat Rujukan Mikroskopis) telah bekerja sebagai ujung tombak untuk pemeriksaan slide BTA di Puskesmas tanpa pernah dilakukannya pengawasan terhadap kualitas dan keseragaman mutu dari hasil terhadap pemeriksaan preparat sputum penderita TBC, kecuali dengan Sistem Cross Check kepada laboratorium yang lebih tinggi seperti Badan Laboratorium Kesehatan (BLK Propinsi). Metode standar pengawasan mutu dari NTP (National Tuberculosis Programme) yang sudah direkomendasikan oleh WHO, sampai saat ini belum pernah dilaksanakan baik oleh program maupun oleh Pusat Laboratorium Kesehatan (Puslabkes). Kualitas data insiden penyakit TBC sangat ditentukan oleh kualitas pemeriksaan mikroskopis BTA (+)/(-). Hingga saat ini pemeriksaan mikroskopis masih merupakan cara yang paling tepat untuk menentukan diagnosa BTA positif. Oleh karena itu pengawasa mutu pemeriksaan di Puskesmas perlu diteliti dan diuji coba dengan model pengawasan dari NTP Programme. Uji coba dilakukan di Puskesmas DKI Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat. Dan apabila dapat diteliti dengan baik setelah dilakukan modifikasi sesuai kondisi Puskesmas di Indonesia , diharapkan model pengawasan kualitas mutu pemeriksaan mikroskopis dari hasil penelitian ini dapat dikembangkan untuk daerah lain di Indonesia.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

83 x
Terbitan : 1999
Pembaruan : 2018-06-28T12:43:02Z


Kategori