Resistensi Kuman Lepra terhadap Pengobatan DDS pada Penderita Lepra di Cirebon

Pengobatan penyakit kusta secara monoterapi dengan obat DDS telah menimbulkan kuman Mycobacterium leprae yang resisten terhadap obat tersebut. Hal ini mengkuatirkan karena banyak kasus yang masih diobati secara monoterapi untuk jangka waktu lama. Laporan dari luar negeri menunjukkan angka prevalensi resiten yang berbeda-beda, seperti di Malaysia 2.5% di Costa Rica 6,8%. Di Idonesia ada indikasi bahwa jenis M. leprae yang resisten terhadap DDS sudah terdapat dengan ditemukannya beberapa kasus kusta di Jakarta yang dibuktikan telah resisten terhadap DDS dengan cara "mouse food pad inoculation" metoda shepard. Untuk tujuan epidemiologi, akan dilakukan survei resisten M. leprae terhadap DDS di antara penderita kusta bentuk LL di daerah hiperendemis Cirebon. Pada tahun 1986 telah dilakukan tes kuman M.leprae yang berasal dari 50 penderita kusta LL di daerah Cirebon. Penderita diambil jaringan kustanya dengan biopsi dan dikirim dalam keadaan dingin ke laboratorium. Tes resistensi dilakukan pada mencit BALB-C yang diberi obat DDS. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan prevalensi M.leprae yang resisten terhadap DDS di daerah Cirebon. Cara melakukan tes adalah dengan inokulasi mouse foot pad metoda shepard pada mencit BALB-C yang kemudian diberikan DDs oral dalam dosis 0.01%, 0.001% dan 0.0001% masing-masing kelompok. Hasil survei menunjukkan bahwa kuman M.leprae yang diasingkan tidak tumbuh atau hanya sedikit di dalam mencit dengan obat DDS atau kontrol.Hal ini ditafsirkan sebagai kuman M.leprae yang diterimanya sudah turun viabilitasnya mungkin karena transportasi spesimen atau karena efektifitas DDS yang baik.


Monograph NonPeerReviewed

Sumber Artikel


Data Artikel

26 x
Terbitan : 1985
Pembaruan : 2018-06-28T12:43:02Z


Kategori